Total Tayangan Halaman

Senin, 23 September 2013

Analisa Pengembangan Produk Biogas Berbasis Kotoran Ternak Skala Rumah Tangga di Desa Batangono Kec. Buko




5_Analisa Biogas di Green PNPM
Latar belakang
Program konversi minyak tanah ke gas belum serta merta diimbangi oleh persediaan yang cukup, sehingga masih banyak dijumpai antrian para pembeli minyak tanah maupun gas.  Kayu yang menjadi alternatif bahan bakar terutama di daerah yang berdekatan dengan hutan, menyebabkan tekanan terhadap hutan semakin. Padahal, alam telah menyediakan banyak energi alternatif selain kayu.  Oleh karena itu, pemanfaatan sumber-sumber energi alternatif yang terbarukan dan ramah lingkungan harus menjadi pilihan.  Salah satu bahan bakar alternatif yang dapat dikembangkan adalah biogas. Jenis bahan bakar biogas ini dihasilkan dari pengolahan limbah kotoran hewan, salah satunya adalah kotoran sapi. Dengan demikian, biogas memiliki peluang yang besar dalam pengembangannya karena bahannya dapat diperoleh dari sekitar tempat tinggal masyarakat yang memiliki peternakan sapi.
Di sisi lain, belum banyak yang melakukan analisis ekonomi terhadap pemanfaatan biogas ini.  Oleh karena itu, CSO melakukan kegiatan analisis terhadap biogas beserta pemanfaatannya termasuk analisis konversi terhadap minyak tanah dan gas LPG.
Apa saja faktor yang berpengaruh dalam analisis ekonomi?
Pembuatan reaktor biogas yang terdiri atas material dan tenaga kerja untuk membangun 1 unit reaktor biogas yang berukuran 4 m3 membutuhkan dana sebesar Rp. 12.110.000
Usaha dari Biogas dan Penghitungannya
  • Usaha yang dapat dilakukan dengan pemanfaatan biogas antara lain penjualan pisang goreng dan mie kuah dengan hasil keuntungan masing-masing Rp. 50.000,- dengan total keuntungan mencapai Rp. 100.000,-.  Jika usaha dilakukan per hari, maka keuntungan dalam sebulan adalah  30 X Rp. 100.000,-  = Rp. 3.000.000,-.   Sehingga dalam setahun pendapatan dari usaha penjualan mie dan pisang goreng adalah: Rp. 36.000.000,-
  • Usaha lain yang dapat dilakukan dari biogas adalah bioslurry atau ampas biogas sebagai pupuk organik.  Hasil dari bioslurry per hari rata-rata mencapai 10 kg.  Dalam sebulan hasil dari bioslurry adalah 300 kg.  Bioslurry atau ampas biogas biasa di jadikan pupuk organik dan dijual seharga Rp. 1.000 per kg. Dalam sebulan penghasilan dari penjualan bioslurry adalah 300 kg x Rp. 1.000,- = Rp. 300.000 per bulan. Dalam setahun, keuntungan yang di dapat dalam penjualan pupuk organik dari bioslurry adalah : 12 x Rp. 300.000,- = Rp. 3.600.000,-. Dalam satu tahun keuntungan dari kegiatan di atas mencapai Rp. 39.000.000,- atau Rp. 3.250.00,-/bulan.
Hal ini menarik karena modal yang di gunakan untuk membangun reaktor biogas akan kembali dalam jangka waktu 4 bulan jika usaha tersebut berjalan lancar.
Catatan Penting
Setelah melakukan analisis ekonomi dari pemafaatan biogas beserta usaha yang dapat dilakukan terdapat beberapa catatan penting terkait dengan pemanfaatan minyak tanah dan gas LPG, yaitu :
  • Sebelum menggunakan biogas, usaha tersebut menggunakan minyak tanah, dengan pemakaian 5 liter per hari. Harga minyak tanah bersubsidi Rp. 3.500 per literJadi pengeluaran per hari adalah 5 x Rp.3.500 = Rp. 17.500,- per hari.  Total pengeluaran untuk pembelian bahan bakar minyak tanah per bulan adalah : 30 x Rp. 17.500,- =  Rp. 525.000,-.  Jika Usaha tersebut menggunakan minyak tanah non subsidi yang harganya Rp. 10.500 per liter, usaha tersebut akan mengalami kesulitan karena pengeluaran untuk bahan bakar akan meningkat.
  • Sebagai ilustrasi : 5 liter x Rp.10.500,- = Rp 52.500,- per hari.  30 hari x Rp. 52.500 = Rp. 1.750.000 per bulan, sehingga dalam 12 bulan x Rp 1.750.000 = Rp. 21.000.000,-
  • Ketika usaha ini menggunakan Gas Elpiji 3 kg, setiap 2 hari pengeluaran untuk pembelian elpiji 3 kg adalah Rp.18.000,-.  Jadi pengeluaran untuk pembelian  elpiji 3 kg dalam sebulan adalah 15 x Rp. 18.000,- = Rp. 270.000,- per bulan
  • Dengan menggunakan biogas, usaha tersebut telah menekan pengeluaran untuk membeli bahan bakar minyak tanah sebesar Rp. 525.000 per bulan atau pengeluaran untuk membeli elpiji sebesar Rp. 270.000,- per bulan.  Dalam setahun pengeluaran untuk pembelian bahan bakar yang dapat di tekan adalah : minyak tanah  12 x Rp. 525.000,-   = Rp. 6.300.000,-; elpiji                  12 x Rp. 270.000,- = Rp. 3.240.000,-
Biogas, dengan pemanfaatan yang bisa dihasilkan merupakan salah satu alternative memanfaatkan energi terbarukan.  Sebelumnya, kotoran sapi yang dianggap limbah, namun setelah diolah menjadi berkah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar